Career Insights

Career Resilience: Mengapa Kemampuan Beradaptasi Semakin Penting di Dunia Kerja

By 9 min read
Career resilience di dunia kerja

Perjalanan karier tidak selalu berjalan sesuai rencana. Seseorang bisa menghadapi perubahan posisi, restrukturisasi perusahaan, perkembangan teknologi, kehilangan pekerjaan, perubahan kebutuhan industri, atau bahkan menyadari bahwa skill yang dimiliki sudah tidak lagi cukup untuk role yang dituju.

Dalam kondisi seperti ini, memiliki pengalaman dan technical skills tetap penting. Namun, ada kemampuan lain yang semakin menentukan bagaimana seseorang dapat terus berkembang di tengah perubahan: career resilience.

Career resilience bukan berarti seseorang harus selalu kuat, tidak boleh gagal, atau mampu menghadapi semua masalah sendirian. Lebih dari itu, career resilience berkaitan dengan kemampuan untuk merespons perubahan, belajar dari pengalaman, menyesuaikan strategi, dan tetap bergerak ketika kondisi karier tidak berjalan sesuai rencana.

Hal ini menjadi semakin relevan karena kebutuhan skill di dunia kerja terus berubah. World Economic Forum mencatat bahwa resilience, flexibility and agility termasuk salah satu kelompok core skills yang paling penting bagi perusahaan saat ini dan diperkirakan semakin relevan hingga 2030.

Lalu, apa sebenarnya career resilience dan mengapa kemampuan ini semakin penting bagi profesional maupun perusahaan?

Apa Itu Career Resilience?

Career resilience adalah kemampuan seseorang untuk menghadapi perubahan, mengatasi tantangan atau setback dalam perjalanan karier, serta tetap mampu berkembang ketika kondisi kerja berubah.

Career resilience tidak hanya berkaitan dengan bagaimana seseorang “bangkit” setelah mengalami kegagalan. Kemampuan ini juga mencakup bagaimana seseorang mempersiapkan diri sebelum perubahan terjadi.

Misalnya, seorang Marketing Specialist yang selama ini mengandalkan social media advertising mulai melihat bahwa AI dan automation mengubah cara tim marketing bekerja. Profesional dengan career resilience tidak hanya melihat perubahan tersebut sebagai ancaman terhadap pekerjaannya. Ia mulai mempelajari tools baru, memahami data, mengembangkan skill yang masih relevan, dan mencari cara untuk menggabungkan pengalaman marketing dengan kemampuan baru.

Dengan demikian, career resilience lebih dekat dengan kemampuan untuk terus menyesuaikan diri sepanjang perjalanan karier, bukan sekadar kemampuan untuk bertahan dari satu masalah.

Penelitian mengenai career resilience juga melihatnya sebagai proses yang berkembang sepanjang karier, terutama ketika seseorang menghadapi adversity, perubahan, atau disruption dan kemudian melakukan positive adaptation.

Mengapa Career Resilience Semakin Penting?

Perubahan dalam dunia kerja semakin sulit dipisahkan dari perkembangan karier seseorang.

Teknologi baru dapat mengubah cara pekerjaan dilakukan. Perusahaan dapat melakukan restructuring. Industri dapat mengalami perubahan kebutuhan. Sementara itu, skill yang dibutuhkan untuk sebuah role juga dapat berkembang dalam waktu relatif singkat.

WEF memperkirakan sekitar 39% existing skill sets akan berubah atau menjadi outdated antara 2025 dan 2030. Pada saat yang sama, resilience, flexibility and agility termasuk skill yang membedakan growing roles dari declining roles.

Artinya, career resilience bukan hanya relevan ketika seseorang kehilangan pekerjaan. Kemampuan ini juga penting ketika seseorang masih bekerja tetapi perlu beradaptasi dengan perubahan di dalam role atau industrinya.

Beberapa situasi yang dapat menguji career resilience antara lain:

  • Perusahaan melakukan restructuring atau perubahan organisasi.
  • Teknologi baru mengubah cara sebuah pekerjaan dilakukan.
  • Skill yang sebelumnya dibutuhkan mulai berkurang relevansinya.
  • Seseorang gagal mendapatkan promosi atau pekerjaan yang diinginkan.
  • Profesional perlu berpindah fungsi atau industri.
  • Perusahaan menghadapi perubahan bisnis yang membuat scope pekerjaan ikut berubah.

Dalam situasi tersebut, kemampuan untuk beradaptasi dapat menentukan apakah seseorang hanya mempertahankan cara kerja lama atau mampu menemukan cara baru untuk tetap relevan.

Career Resilience Bukan Berarti Harus Selalu Bertahan

Ada anggapan bahwa seseorang yang resilient adalah orang yang terus bertahan dalam situasi sulit.

Padahal, career resilience tidak selalu berarti bertahan di posisi atau perusahaan yang sama.

Dalam beberapa kondisi, keputusan yang resilient justru bisa berupa mengubah strategi.

Misalnya, seorang profesional sudah beberapa kali melamar posisi yang sama tetapi belum mendapatkan hasil. Career resilience bukan berarti terus mengirim lamaran dengan CV dan pendekatan yang sama.

Ia dapat mengevaluasi kembali:

  • Apakah skill yang dimiliki sudah sesuai dengan kebutuhan role?
  • Apakah CV sudah menunjukkan impact dan achievement?
  • Apakah pengalaman sebelumnya dapat ditransfer ke industri lain?
  • Apakah perlu mempelajari skill baru?
  • Apakah networking dapat membuka akses terhadap peluang yang berbeda?

Dengan begitu, resilience bukan hanya tentang persistence, tetapi juga tentang kemampuan untuk mengetahui kapan sebuah strategi perlu dipertahankan dan kapan perlu diubah.

Apa Saja Ciri Profesional dengan Career Resilience yang Kuat?

Career resilience dapat terlihat dari bagaimana seseorang merespons situasi yang tidak pasti.

Terbuka terhadap Perubahan

Profesional yang resilient tidak selalu menyukai perubahan, tetapi mampu menerima bahwa perubahan merupakan bagian dari dunia kerja.

Ketika perusahaan memperkenalkan sistem baru atau mengubah workflow, mereka berusaha memahami alasan perubahan tersebut dan mencari cara untuk menyesuaikan diri.

Mau Terus Belajar

Career resilience sangat berkaitan dengan continuous learning.

Seseorang yang terus memperbarui skill memiliki lebih banyak pilihan ketika kebutuhan pekerjaan berubah. Pembelajaran tersebut tidak selalu harus berupa pendidikan formal. Kursus, certification, project, mentoring, komunitas profesional, dan pengalaman lintas fungsi juga dapat menjadi bagian dari proses tersebut.

Mampu Belajar dari Setback

Tidak mendapatkan pekerjaan, gagal dalam interview, tidak mendapatkan promosi, atau melakukan kesalahan dalam sebuah project dapat menjadi pengalaman yang sulit.

Namun, career resilience terlihat dari kemampuan untuk mengubah pengalaman tersebut menjadi feedback.

Alih-alih hanya bertanya, “Kenapa saya gagal?”, seseorang dapat mulai bertanya, “Apa yang bisa saya perbaiki dari pengalaman ini?”

Fokus pada Hal yang Bisa Dikendalikan

Tidak semua faktor dalam karier berada di bawah kendali seseorang.

Keputusan perusahaan, hiring decision, kondisi ekonomi, restructuring, atau perubahan kebutuhan industri merupakan contoh faktor eksternal.

Yang dapat dikendalikan adalah bagaimana seseorang mempersiapkan diri, meningkatkan skill, membangun network, menjaga professional reputation, dan merespons perubahan.

Memiliki Arah Karier yang Fleksibel

Memiliki career goal tetap penting, tetapi jalannya tidak harus selalu linear.

Seorang profesional dapat memiliki tujuan untuk masuk ke leadership, tetapi jalurnya mungkin dimulai dari project lintas fungsi. Seseorang yang awalnya bekerja di marketing juga dapat berpindah ke growth, business development, atau product karena memiliki transferable skills yang relevan.

Career resilience membuat seseorang mampu mempertahankan arah tanpa harus terpaku pada satu jalur.

Membangun Professional Network

Network juga menjadi bagian penting dari career resilience.

Relasi profesional dapat memberikan akses terhadap informasi industri, peluang kerja, perspektif baru, mentorship, dan bahkan peluang kolaborasi.

Karena itu, networking sebaiknya tidak hanya dilakukan ketika seseorang sedang mencari pekerjaan.

Career Resilience dalam Situasi Kerja Nyata

Career resilience dapat terlihat dalam berbagai situasi sehari-hari.

Misalnya, sebuah perusahaan mulai menggunakan AI untuk membantu pekerjaan administratif yang sebelumnya dilakukan secara manual.

Seorang karyawan dapat melihat perubahan tersebut sebagai ancaman karena sebagian pekerjaannya mulai terotomatisasi.

Namun, ia juga dapat mengambil pendekatan berbeda dengan mempelajari bagaimana tools tersebut bekerja, memahami bagian pekerjaan yang tetap membutuhkan human judgment, kemudian mengembangkan skill tambahan seperti data analysis, problem solving, communication, atau stakeholder management.

Dengan begitu, ia tidak hanya mempertahankan skill yang sudah dimiliki, tetapi juga meningkatkan value yang dapat diberikan ketika scope pekerjaannya berubah.

Perubahan yang sama dapat menghasilkan respons yang berbeda dari setiap profesional. Di sinilah career resilience menjadi relevan.

Bagaimana Cara Membangun Career Resilience?

Career resilience bukan kemampuan yang hanya dimiliki oleh orang tertentu. Ada beberapa kebiasaan yang dapat membantu profesional membangunnya secara bertahap.

1. Lakukan Skill Check Secara Berkala

Jangan hanya melihat skill yang digunakan dalam pekerjaan saat ini. Perhatikan juga skill apa yang mulai dibutuhkan oleh industri.

Bandingkan kemampuan yang sudah dimiliki dengan kebutuhan role yang ingin dituju dalam satu hingga tiga tahun ke depan.

2. Terus Perbarui Skill

Continuous learning tidak harus berarti mengikuti banyak kursus sekaligus.

Lebih penting untuk memilih skill yang relevan dengan career direction dan kebutuhan pasar.

Misalnya, profesional di bidang marketing dapat mempelajari analytics dan AI tools, sementara profesional finance dapat memperkuat data analysis, automation, atau financial modeling.

3. Bangun Transferable Skills

Skill yang dapat digunakan di berbagai role atau industri memberikan fleksibilitas lebih besar ketika seseorang harus berpindah arah.

Communication, analytical thinking, problem solving, project management, stakeholder management, dan leadership merupakan contoh kemampuan yang dapat digunakan lintas konteks.

4. Evaluasi Strategi Ketika Hasil Tidak Sesuai Harapan

Jika pendekatan yang sama terus menghasilkan hasil yang sama, mungkin masalahnya bukan kurangnya usaha, tetapi strategi yang digunakan.

Evaluasi CV, portfolio, networking approach, skill gap, target role, dan cara mencari peluang.

5. Bangun Network Sebelum Membutuhkannya

Career resilience akan lebih kuat ketika seseorang tidak bergantung pada satu sumber informasi atau satu jalur karier.

Bangun hubungan profesional secara konsisten, baik melalui rekan kerja, komunitas, alumni, mentor, maupun profesional di industri yang ingin dipelajari.

6. Jaga Career Awareness

Tidak perlu terus-menerus mencari pekerjaan untuk memahami kondisi pasar.

Cukup dengan mengikuti perkembangan industri, membaca job descriptions, memperhatikan skill yang banyak dicari, dan memahami perubahan role yang relevan dengan bidang masing-masing.

Dengan begitu, seseorang dapat lebih cepat mengenali perubahan sebelum perubahan tersebut menjadi masalah.

Apa Peran Perusahaan dalam Membangun Career Resilience?

Career resilience memang merupakan kemampuan yang perlu dikembangkan oleh individu. Namun, perusahaan juga memiliki peran penting dalam menciptakan lingkungan yang memungkinkan karyawan untuk berkembang.

Perusahaan dapat mendukung career resilience melalui upskilling, reskilling, career development, mentoring, dan internal mobility.

Hal ini semakin relevan karena perubahan skill bukan hanya menjadi tanggung jawab individu. WEF mencatat bahwa perusahaan semakin berinvestasi dalam upskilling dan reskilling untuk menghadapi perubahan kebutuhan workforce.

Bagi HR, pendekatannya dapat dimulai dari beberapa hal:

  • Memberikan akses terhadap learning opportunities.
  • Membantu karyawan memahami career path.
  • Mendorong internal mobility.
  • Memberikan feedback yang konstruktif.
  • Mengidentifikasi skill gaps sebelum menjadi masalah.
  • Menciptakan ruang bagi karyawan untuk mencoba tanggung jawab baru.

Dengan pendekatan tersebut, career resilience tidak hanya menjadi tanggung jawab karyawan, tetapi juga bagian dari talent development strategy perusahaan.

Mengapa Career Resilience Penting bagi Perusahaan?

Career resilience bukan hanya memberikan manfaat bagi individu.

Perusahaan juga mendapatkan workforce yang lebih siap menghadapi perubahan.

Karyawan yang mampu belajar dan beradaptasi dapat membantu organisasi mengisi skill gaps, mengambil tanggung jawab baru, dan bertransisi ketika business priorities berubah.

Dari perspektif talent management, hal ini juga dapat membantu perusahaan mengurangi ketergantungan pada external hiring untuk setiap perubahan kebutuhan skill.

Alih-alih selalu mencari kandidat baru ketika sebuah role berubah, perusahaan dapat melihat apakah existing employees memiliki potential untuk dikembangkan melalui upskilling atau internal mobility.

Dengan demikian, career resilience dapat menjadi bagian dari workforce resilience.

Career Resilience dan Masa Depan Dunia Kerja

Perubahan dunia kerja tidak menunjukkan tanda-tanda melambat.

AI, digital transformation, economic uncertainty, dan perubahan model bisnis akan terus memengaruhi bagaimana pekerjaan dilakukan dan skill apa yang dibutuhkan.

WEF menempatkan resilience, flexibility and agility di antara skill inti yang paling banyak dianggap penting oleh employer, sementara skill tersebut juga diperkirakan terus meningkat relevansinya hingga 2030.

Namun, membangun career resilience bukan berarti seseorang harus terus mengejar setiap teknologi atau tren baru.

Yang lebih penting adalah memiliki kemampuan untuk belajar, mengevaluasi, beradaptasi, dan mengambil keputusan ketika kondisi berubah.

Karier yang resilient bukan berarti karier tanpa setback.

Justru, karier yang resilient adalah karier yang tetap dapat berkembang meskipun jalannya tidak selalu linear.

Dari Career Resilience Menuju Karier yang Lebih Adaptif

Pada akhirnya, career resilience bukan tentang memastikan bahwa karier seseorang akan selalu aman.

Tidak ada profesional yang dapat memprediksi seluruh perubahan yang akan terjadi dalam lima atau sepuluh tahun ke depan.

Yang dapat dilakukan adalah membangun kemampuan dan kebiasaan yang membuat seseorang lebih siap ketika perubahan tersebut datang.

Learn continuously. Adapt when needed. Keep moving forward.

Bagi profesional, career resilience berarti tidak hanya memikirkan pekerjaan yang dimiliki saat ini, tetapi juga kemampuan untuk tetap relevan ketika kebutuhan dunia kerja berubah.

Bagi perusahaan, hal ini berarti menciptakan workforce yang tidak hanya mampu menjalankan pekerjaan hari ini, tetapi juga memiliki kapasitas untuk berkembang bersama perubahan bisnis.

Bangun Karier yang Lebih Adaptif Bersama Geekhunter

Membangun career resilience membutuhkan lebih dari sekadar mengikuti tren skill terbaru. Profesional perlu memahami arah karier, mengenali skill yang relevan, membangun pengalaman yang transferable, dan tetap terhubung dengan perkembangan pasar kerja.

Dari sisi perusahaan, kemampuan untuk mengembangkan dan mempertahankan talent juga semakin penting ketika kebutuhan skill terus berubah.

Geekhunter membantu perusahaan menemukan dan terhubung dengan profesional yang sesuai dengan kebutuhan bisnis melalui pendekatan yang menggabungkan talent sourcing, market understanding, candidate engagement, dan recruitment expertise.

Sedang mencari kandidat dengan skill yang tepat untuk perusahaanmu?
👉 Rekrut bersama Geekhunter sekarang: https://geekhunter.co/services

Tertarik menemukan peluang karier berikutnya?
👉 Temukan lowongan kerja terbaru: https://geekhunter.co/careers

Share this articleLinkedIn WhatsApp